Sumber: Samuel Angor (Unsplash)
Admin
07 Aug 2026 18:22 WITA

"CHAT DOANG KOK BAPER?"—EMANG BISA BIKIN BAPER

Oleh: Afifah Alimah A

Pernah gak sih ngirim chat, terus dibalasnya lama banget, atau bahkan dilihat doang? Perasaan kita sebagai pengirim kan gak enak, ya?

Tapi kok bisa sebuah chat bisa bikin mood kita hancur?

Kalau mau nyari model untuk ngejelasin, dulu kita punya VUCA, tapi sekarang itu udah ada gantinya: BANI. BANI itu singkatan dari:

  • Brittle; fragile yang bermakna kalau satu konten sekarang bisa ngehancurin satu dunia dengan cepat,
  • Anxious; overwhelming karena informasi tuh cepat banget berputarnya,
  • Nonlinear; unpredictable karena dunia gak bisa diprediksi, sesuatu yang kecil bisa jadi besar dan suatu yang besar bisa aja gak ada yang peduli,
  • Incomprehensible; hard to understand, udah dunia berputarnya cepat, gak bisa diprediksi, kadang ada yang susah banget dipahami.

Ini penting banget, karena kalau udah ngaruh ke otak; sebuah chat bisa bikin mood-nya down, bisa ngaruh ke kelakuan kita juga. Tapi kok bisa?

Gak usah jauh-jauh nyari teori, kita balik ke dasar aja: sensasi dan persepsi.

Sensasi itu saat indra perasa kita menerima sinyal dari sesuatu di sekitar kita (stimuli). Stimuli itu bisa jadi saat kita melihat foto makanan, ngerasain dingin atau panas, termasuk pas kita lihat chat dari orang.

Sebuah pesan, gak bakalan berarti apa-apa kalau gak ada persepsi, karena persepsi ini yang ngasih sebuah makna ke pesan (stimuli) tadi.

Karena adanya persepsi ini, sesuatu yang seharusnya biasa-biasa aja (netral), bisa berubah jadi drama.

“Ok”

Coba lihat pesan di atas, itu kan biasa aja. Tapi karena persepsi kita memaknainya dengan berbeda, kita jadi dramatis, mikir kalau si penerima pesan orangnya cuek banget dan ini bisa ngaruh ke reaksi kita nanti. Mungkin kita jadi malas ngebalas pesan dia nanti.

Ditambah pesan-pesan ini tuh online, kita gak bisa ngelihat langsung orangnya ini nulis pesan pakai muka datar atau lagi senyum, atau bisa jadi lagi nangis, jadinya kita punya sedikit banget data yang bikin kita makin gampang menduga-duga terus jadinya salah paham, deh.

Apalagi kalau misalnya emang waktunya gak tepat, kamu sebagai penerima lagi capek banget terus terima pesan gitu, kamu pasti kesal, dong.

“Kasih penjelasan, kek! Kok ‘ok’ doang?” Kamu mungkin balasnya kayak gini. Kalau penerima pesan kamu juga mood-nya lagi gak baik-baik aja, jadi drama, deh.

Makanya, satu-satunya solusinya adalah untuk berprasangka baik, atau tanya aja kenapa dia jawabnya gitu. Siapa tahu dia balasnya pas lagi sibuk banget, kan?

Lagi pula, kita juga gak bisa mengontrol mereka bakalan balas atau nggak, jadi sebaiknya gak usah diurusin, fokus dengan apa yang bisa kita lakukan aja. Membalas dengan sebaik-baik dan secepat mungkin, misalnya.

 

*Ini adalah resume dari materi Islamic Mental Health Series, Chat itu Ibadah: Psikologi Komunikasi Digital dalam Lensa Islam, Episode 1: Seen, Slow Response, dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental yang dibawakan oleh Aviva Luthfiana, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Dapatkan sekarang

Sepenuh Cinta, Ringan dan cepat
0 Disukai
Lihat Juga
Admin
07 Aug 2026 18:28 WITA