Oleh: Afifah Alimah A
Sebelum ngelola duit, lagi-lagi ingat kembali kalau rezeki itu datangnya dari Allah SWT. dan udah Dia tentuin seperti yang Dia bilang di Qur’an surah Hud ayat 6.
۞ وَمَا مِن دَآبَّةٍۢ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّۭ فِى كِتَـٰبٍۢ مُّبِينٍۢ ٦
“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauḥ Maḥfūẓ).” (Hud ayat 6)
Tapi bukan berarti kita gak bakalan mempertanggungjawabkan harta yang kita punya. Seperti yang Rasulullah SAW. katakan yang udah disahkan sama At-Tirmidzi dan Al-Albani dalam As-Shahihah, no. 946.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai dia ditanya (diminta pertanggungjawaban) tentang umurnya; kemana dihabiskannya, tentang ilmunya; bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.” (HR. at-Tirmidzi, no. 2417, ad-Darimi, no. 537, dan Abu Ya’la, no. 7434, dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani dalam as-Shahihah, no. 946 karena banyak jalurnya yang saling menguatkan).
Ini diambil dari https://pengusahamuslim.com/1981-mengatur-dan-membelanjakan-harta-13.html (silahkan cek sendiri untuk lebih lanjutnya, ya!)
Karena itu, tetap aja kita butuh ngelola duit kita, kan?
Mulainya bisa dengan cari tahu dulu keadaan finansial kita gimana dengan cara pengeluaran dan pemasukannya dicatat.
Katanya, mau konsultasi sama orang keuangan pun, pasti bakalan minta dicatat dulu pemasukan dan pengeluarannya.
Untuk nyatat ini, bisa pakai aplikasi (kan banyak banget tuh di Google Play Store dan App Store).
Aku pribadi (dan disaranin sama Kak Rahma juga) pakai Sheets punya Google karena bisa di-share sama orang lain dan bisa diakses ke seluruh device dan bagus juga untuk update-nya, yang penting kesambung sama internet aja.
Tapi kan kadang malas banget buka Sheets—makanya butuh rajin!
Nggak, sih. Kak Rahma saranin kirim chat ke diri sendiri aja di WhatsApp biar ingat soal pengeluaran dan pemasukan. Nanti sebelum tidur, bisa diinput ke Sheets, deh.
Kalau aku pribadi sih pakai aplikasi lain, jadi biasanya aku input di akhir pekan karena udah malas banget (tidak disarankan). Nama aplikasinya MoneyManager. Kenapa gak pakai aplikasi lain? Nggak apa, lucu aja aplikasinya.
Dengan nyatat keuangan, kita jadi bisa tahu keadaan kita lagi surplus atau defisit dan tahu juga apakah budget kita under atau malah over.
Langkah berikutnya (habis dicatat keuangannya selama sebulan), bisa deh kita nentuin budget yang realistis.
Sarannya sih gini:
55% masuk ke konsumsi (makanan, minuman, dan lain-lain)
30% masuk ke hal-hal yang wajib banget (utang, tagihan listrik, dan lain-lain)
10% ditabung (soalnya kita hidup gak cuman hari ini)
sisanya, alias 5% dikasih ke orang lain (sedekah)
By the way, tabungan sama sedekah itu bisa disesuaikan aja. Siapa tahu kebutuhan wajib dan konsumsi kamu terlalu banyak untuk persentase segitu, bisa kok dilebihkan.
Intinya semuanya butuh dicatat (kalau sempat dan memungkinkan). Untuk mengontrol, setelah tahu kondisi keuangan dan budgeting, definisikan kebutuhan dan keinginan.
Di awal bulan, boleh tuh dicatat apa aja yang udah gawat banget dan harus dibeli jadi nantinya bisa tahu mana yang dibutuhkan dan mana yang diinginkan.
Kalau misalnya mau belanja di e-commerce terus ngerasa kayak … ini kayaknya impulsif banget, deh, tipnya check out aja dulu, bayarnya nanti—kan ada waktu yang dikasih ya buat transfer duitnya?
Sebelum beli, ingat dulu ada yang namanya hedonic treadmill. Menurut Positive Psychology, ini tuh sebuah konsep kalau otak kita tuh gampang banget menjadikan sebuah hal yang tadinya menyenangkan atau luar biasa banget, jadinya biasa-biasa aja.
Misalnya, bulan pertama beli emas 1 gram, kita ngerasa senang banget awal-awal, tapi pas bulan berikutnya, kita pengen 2 gram dan 1 gram tuh udah kayak standar aja. Terus bulan ketiga, 2 gram itu jadi standar, begitu seterusnya.
Makanya, menahan diri itu bagus.
Lagi pula, kebahagiaan itu faktor internal, bukan eksternal. Sebagai Muslim, kita juga kan harus qanaah; harus rela untuk melepas kemelekatan ke harta dan barang-barang.
Demi financial well-being, beli hanya ketika butuh aja. Soalnya, barang banyak-banyak juga gak bisa dipakai semua, kan? Kasihan juga barangnya kalau dibiarin rusak karena gak kepakai.
Terus, ditekankan untuk nggak berutang. Kan Allah SWT. udah bilang tadi kalau dia udah nulis rezeki kita, jadi kalau belum dikasih rezekinya, berarti ya udah … lepasin aja.
Tapi ini balik ke diri sendiri lagi, sih.
Untuk investasi, setelah tahu tempat investasi yang sesuai dengan aturan Islam, cek lagi keuangannya. Soalnya, investasi itu untuk masa yang akan datang, bukan untuk masa sekarang. Sarannya sih investasi itu boleh dilakukan kalau emang ada uang yang nganggur; berarti finansialnya udah surplus dan udah ada dana darurat.
*Ini adalah resume dari materi Growth in Motion #1, Financial Calm: A Muslimah’s Guide to Mindful Money yang dibawakan oleh Rahma Aziza, S.Akun.
Dapatkan sekarang